Home » » Syekh Junaid al-Baghdadi

Syekh Junaid al-Baghdadi

Written By Contact Admin on Sabtu, 24 April 2010 | Sabtu, April 24, 2010

Junaid bin Muhammad Abu Al-Qasim Al-Khazzaz al-Baghdadi (830-910 M) adalah salah satu awal besar bagi Persia, beliau adalah mistikus Muslim, atau ulama sufi beragama Islam dan merupakan pusat tokoh dalam rantai emas banyak sufi.
Dia ditemani paman dari pihak ibu Sari al-Saqati dan panduan lainnya termasuk al-Harits al-Muhasibi , dan lain-lain. Ia lahir di Baghdad dari Persia tua dan menurut Dehkhoda, nenek moyangnya dari mana Nahavand.

Awal pendidikan Al-Junaid dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari Al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, Al-Junaid mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih kondang di Baghdad. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, Al-Junaid beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari Al-Saqati. Selain itu Junaid kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu Al-Junaid dalam sufisme telah cukup matang.

Al-Junaid adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari Al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari Al-Saqati, "Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?" Sari Al-Saqati menjawab, "Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai."

Pengalaman Syech Junaid

Shaykh Junayd Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.

Shaykh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?

Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”

Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya , ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?)

Shaykh mengucapkan salam

Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda? ”

” Saya Junayd Baghdadi.”

Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”

“Ya, betul !” jawab Shaykh

Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Shaykh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”

“Ya!” kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”

“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yang lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Shaykh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.

Para Murid Shaykh berkata, “O Shaykh! Dia orang yang gila. ”

Shaykh menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.

Setelah mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada perlu dengan Bahlul.”

Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junayd mendekatinya.

Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?”

” Shaykh Baghdadi yang tidak mengetahui bagaimana cara makan.”

” Anda tidak mengetahui bagaimana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?”

“Ya”

” Bagaimana anda berbicara ?”

” Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan RasulNya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.

kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika

Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”

Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Shaykh dan pergi

Para murid berkata, “O Shaykh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”

Shaykh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”

Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.

Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”

” Ya, saya tahu.”

” Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya

” Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”

Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.

Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”

Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengethuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.

Bahlul berkata ” Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”

“Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”

” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”

” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Shaykh.

Bahlul melanjutkan, Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunya atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.

Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.

Imam Abul Qusim Aljunaid r.a. bercerita :

Sekali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi alaihis-shalatuwasalam, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana ,tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang melas serta sangat menyayat hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk remdam.

Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung mengucapkan ..Assalamualaikum, ya Abul Qasim!!..

Waalaikumussalam! Jawab ku penuh kehairanan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku pada mu, sedangkan kita belum pernah mengenal satu sama lain ? Aku bertanya kepadanya..

Wahai Abul Qasim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah , wahai Abul Qasim, kalau aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah kebukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.

Berkata Abul Qasim Aljunaid lagi menyambung ceritanya :
Kemudian aku lihat anak muda tadi penuh berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin menekan, barang kali , kerana kesakitan….Dalam pada itu ia sempat berpesan lagi, katanya:

Wahai ABUL Qasim ! Setelah anda selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali kenegeri mu, hendaklah anda menuju dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang disana tentang kampung Darb Za’faran. Setelah tiba dikampung itu, tanyakan pula tentang ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah, jawab ku.

Anak muda itu kemudian merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, sedang kan wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, kemudian mengafankanya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali:: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama sama menyalati mayat asing ini!.

Tiba tiba datanglah beribu ribu orang dari segenap penjuru, seperti ulat layaknya, sedang wajah wajah mereka bagaikan terangnya cahaya bulan purnama. Kami pun menuruti bersama menyalati mayat itu, kemudian menguburkannya. Setelah selesai penguburan mayat itu, maka dengan serta merta pula, hilanglah ribuan orang orang tadi secara mendadak dan tampa ada bekasnya. Saya benar benar kehairanan atas kejadian itu, juga atas kemuliaan mayat yang tidak saya kenal sebelumnya.

Setelah selesai ibadat haji, saya segera pergi ke Bagdad, dan terus menuju kekampung Darb Za’faran . setelah menemukanya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorsng dari antara mereka memandang tajam kepada ku, seraya mendekati ku dan berkata:
Assalamualaikum, ya Abul Qasim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu tentang kematian ayah ku, agaknya ?

Hati ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang dikatakan, padahal ia masih demikian kecil. Ia kemudian menuntun ku kesebuah rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua membuka pintu, dan alangkah terangnya wajah wanita tua itu, dan alang kah salihan ia tampaknya. Saya mengucapkan salam kepadanya . Ia pun segera membalasnya, lalu menangis terisak isak . kemudian ia bertanya: Wahai Abul Qasim ! Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mata ku.
Moga moga ia mati da Arafah ? Jawab ku , tidak!…..
apakah di Mina?……jawab ku , tidak ! ….
di Muzdalifah? ….jawab ku tidak…..
Habis dimana? Tanya ibu itu, Dipadang pasir, dibawah pohon ghailan?,jawab : Ya,,

Mendengar berita itu ia menjerit keras seraya berkata:; oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh anak ku! Mengapa tidak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah) ,atau dibiarkanNya saja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan ketika itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat ke atas rohnya.

Berkata Aljuniad seterusnya :
Melihat neneknya telah meninggal dunia, anak kecil itu pun mendekati manyatnya sambil menangis terisak isak. Kemudian menengadah kearah langit seraya berdoa :;

Ya Allah, ya Tuhan ku Mengapa Engkau tidak ambil aku bersama sama nenek ku ! Ya Allah , lebih baik Engkau ambil aku untuk pergi bersama sama mereka berdua!… Dengan tiba tiba saja sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, moga moga Allah merahmati mereka sekalian.

Saya benar benar tercengang menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga mayat itu dangan sempurna dan baik .

Setelah kami menguburkan jenazah jenazah itu, maka dangan hati yang penuh sedih dan hiba, saya meninggalkan kubur kubur mereka!


Syech Junaid al-Baghdadi adalah peletak dasar bagi mistisisme sadar dalam kontras dengan yang mabuk-Sufi Allah seperti al-Hallaj , Abu yazid Bustami dan Abu sa’id Abu al-khair . Dalam proses persidangan al-Hallaj , mantan murid, Khalifah waktu itu yang diminta fatwa dan ia mengeluarkan ini fatwa : "Dari penampilan luar dia mati dan kita menilai sesuai dengan penampilan luar dan Tuhan yang tahu" lebih baik. Dia disebut oleh para Sufi sebagai Taifa ut-Sayyid yaitu pemimpin kelompok.

Imam Junaid juga seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.

Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca al-Quran dan berzikir.

Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.

Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.

Beliau akan membahagi-bahagikan sebahagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasauf Ikut Sunnah Rasulullah saw

Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.

Beliau pernah berkata:

“Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasauf ini.”

Memiliki Beberapa Kelebihan dan Karamah
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.

Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli tasawuf, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.

Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik

Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan imej Imam Junaid.

Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.

Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.

Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.

Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.

Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.

“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.

Syech Junaid dengan Muridnya
Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.


Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda tersebut.

Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar (‘asy-Syibli’), dan Abul Qasim al-Junaid, si ‘Merak Kaum Terpelajar’, adalah dua guru Sufi awal. Mereka berdua hidup dan mengajar lebih dari seribu tahun yang lalu. Kisah tentang masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid, diberikan di sini, diambil dari The Revelation of the Veiled, salah satu dari buku-buku penting dalam bidangnya. al-Junaid sendiri memperoleh spiritualitasnya melalui pengaruh Ibrahim ibnu Adham (‘Ibnu Adhem’ dalam puisi Leigh Hunt), ia sebagaimana Budha, adalah seorang pangeran yang turun tahta mengikuti tarekat (Jalan), dan meninggal pada abad kedelapan.

Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.”

Al-Junaid berkata, “Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya asy-Syibli.

“Pergilah dan jadilah penjual belerang.”

Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis.”

Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. Ia kembali ke al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:


“Bagi ummat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan mereka.

Sekembalinya asy-Syibli, al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya.

Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.

Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas.

Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat. Dia berkata:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranku, engkau semua bijak.
Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku
Dan meningkatkan kebijakanmu
‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran


Tasawuf Syech Junaid al-Baghdadi

Al-Junaid barkata, "Tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun." Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junaid ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan cara atau sarana menuju Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Sedangkan pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang tersebut.

Dengan perantaraan sufisme, manusia dapat mendekati-Nya, bahkan dapat bersatu di dalam-Nya. Agar dapat mencapai persatuan tersebut, manusia harus mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang melekat pada dirinya. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di dalam-Nya akan tercapai.

Namun demikian, Al-Junaid juga menyatakan bahwa, "Sufisme adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia." Dan ketika ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? Al-Junaid menjawab, "Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun gambaran lahiriahnya adalah sifat manusia." Melalui definisi ini, Al-Junaid ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga dapat dilukiskan. Pada tingkat ini, seorang sufi akan kehilangan kesadarannya, tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tidak lagi menjadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.

Lebih jauh Al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.
Dalam ajaran Sufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Sufi memiliki:
1. Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
8. Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad saw.


1. Ajaran Zuhud

Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung dalam ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf dalam usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil melalui tahap ini, maka niscaya tidak akan pernah berhasil mencapai hal dan maqam sesudahnya.

Menurut Al-Junaid, "Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan)." Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.

Al-Junaid juga bertutur, "Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain." Bagi Al-Junaid, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.

2. Ajaran Tawakal

Menurut Al-Junaid, "Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi." Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junaid juga bertutur, "Bahwasannya kamu harus puas dengan Tuhan daam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan."

3. Ajaran Mahabbah

Junaid bertutur tentang mahabbah, "Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai." Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.

Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran ketika sifat-sifat kemanusiaannya hilang, pada saat itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. Jika sufi tersebut masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, niscaya dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan yang dicintainya. Tetapi jika dia tahu bahwa keindahan Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia harus menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud.

4. Ajaran Mushahadah

Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, "Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala." Hal ini berarti bahwa dalam ajaran sufisme, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Menurut Al-Junaid, Tuhan hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tidak ingin melakukannya.

Al-Junaid bertutur, "Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tidak dapat melihat Engkau ya Allah. Lantaran dalam cinta, mata adalah sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan pada yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, ketika di dunia aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku harus menggunakan perantaraan seperti itu di akhirat nanti."

5. Ajaran Mithaq

Menurut Al-Junaid, yang dimaksud dengan mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.

6. Ajaran Tentang Fana dan Baqa

Junayd kontribusi terhadap tasawuf banyak. Nya ide dasar berurusan dengan kemajuan yang menyebabkan orang untuk "memusnahkan" diri (fana) sehingga berada dalam serikat lebih dekat dengan Ilahi. Orang perlu "melepaskan keinginan alam, untuk menghapus atribut manusia, untuk membuang motif egois, untuk menumbuhkan kualitas spiritual, untuk mengabdikan diri kepada pengetahuan yang benar, untuk melakukan apa yang terbaik dalam konteks keabadian, keinginan baik untuk seluruh masyarakat, harus benar-benar beriman kepada Allah, dan mengikuti Nabi dalam hal syariat ". Ini dimulai dengan praktek penolakan (zuhd) dan berlanjut dengan penarikan dari masyarakat, konsentrasi intensif pada pengabdian (Ibadat) & mengingati (zikir) Allah, ketulusan (Ikhlas), dan kontemplasi (muraqaba) masing-masing; kontemplasi menghasilkan fana. Jenis "perjuangan semantik" recreates pengalaman persidangan (bala) yang penting dalam tulisan-tulisan Junayd. Hal ini memungkinkan orang untuk masuk ke dalam keadaan fana. Junayd membagi atas keadaan fana menjadi tiga bagian: "1) yang meninggal dari atribut seseorang melalui upaya terus-menerus menentang ego-diri sendiri (nafs); 2) berlalu dari perasaan seseorang tentang prestasi, yaitu berlalu dari "kita berbagi salah satu padang pasir manis dan kenikmatan ketaatan '; dan 3) lewat jauh dari visi tentang realitas" dari ekstasi Anda sebagai tanda nyata mengalahkan Anda' ". Semua tahapan ini membantu seseorang untuk mencapai fana. Sekali yang telah dicapai, seseorang di negara bagian yang tersisa, atau baqa. Ini adalah melalui tahap baqa yang satu dapat menemukan Tuhan - atau lebih tepatnya, memiliki Allah menemukan dirinya. Menjangkau baqa bukanlah hal yang mudah dilakukan meskipun; mendapatkan melalui tiga tahap membutuhkan disiplin yang ketat dan kesabaran. Bahkan ada perdebatan antara ulama, apakah atau tidak tahap ketiga bahkan dimungkinkan untuk dicapai. Junayd membantu mendirikan "sadar" sekolah pemikiran sufi, yang berarti bahwa dia sangat logis dan ilmiah tentang definisi tentang berbagai kebajikan, Tauhid, dll Sober tasawuf dicirikan oleh orang-orang yang "Pengalaman [fana dan] tidak hidup dalam keadaan penyerapan tanpa pamrih pada Tuhan tetapi menemukan diri mereka kembali ke indera mereka oleh Allah. kembali tersebut dari pengalaman demikian dilarutkan mementingkan diri sebagai diri baru, "seperti orang mabuk serius sampai. Sebagai contoh, Junayd dikutip mengatakan, "Air mengambil warna dari cawan itu." Meskipun ini mungkin tampak agak membingungkan pada awalnya, 'Abd al-Hakeem Carney menjelaskan lebih baik: "Ketika air dipahami di sini untuk lihat Terang pengungkapan Ilahi diri, kita dituntun menuju konsep penting dari 'kapasitas,' dimana penampakan Ilahi diterima oleh hati setiap orang menurut orang itu tertentu menerima kapasitas dan akan 'berwarna' oleh alam seseorang ". Seperti yang dapat dilihat, seperti ungkapan yang sederhana memiliki arti yang mendalam seperti; ia membawa pembaca kembali ke pemahaman yang lebih dalam Tuhan melalui metafora yang lebih bijaksana.

Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga jika seseorang mengalami fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di sisi Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang bagi seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat tersebut, harus terlebih dahulu dihapuskan agar dapat mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan kata lain, untuk mencapai persatuan dalam Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada pada diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, harus dihilangkan terlebih dahulu. Sehingga ketika hati benar-benar telah bersih dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.

7. Ajaran Tauhid

Menurut Al-Junaid, tauhid adalah, "Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan)." Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.

8. Ajaran Makrifat

Menurut Al-Junaid, marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

Makrifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Tuhan. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.

Makrifat menurut Al-Junaid merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.

9. Sahw (Kembali Pada Kesadaran)

Dalam sufisme, istilah sahw adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami ghaybah (fana) dan kehilangan kesadarannya. Al-Junaid menjelaskan masalah sahw ini sebagai berikut, "Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya."

Sahw ini merupakan tahap terakhir setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu menyucikan hatinya secara terus-menerus dalam kesadaran manusia sehingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan dicintai Allah


Ada beberapa masalah lain ketika menghadapi teks Junayd's. Junayd percaya bahwa Sufisme adalah jalan bagi elit untuk mencapai Allah, bukan orang biasa. "Tasawwuf," katanya, "adalah untuk membersihkan jantung dari setiap ingin mengikuti jalan orang-orang umum" . Hal ini lebih lanjut menguraikan tentang mengapa menulis begitu fasih Junayd. Juga, menurut Menjual, "... Junayd tampaknya mengandaikan bahwa pendengar-nya atau pembaca telah memiliki pengalaman tentang apa yang dia berbicara - atau, bahkan lebih radikal, bahwa pendengar atau pembaca dapat masukkan bahwa pengalaman, atau penciptaan kembali itu - pada saat pertemuan dengan kata-kata Junayd " . Pernyataan ini membuatnya tampak seperti Junayd sedang menulis untuk sebuah sekte tertentu dari elit bahwa ia telah dijelaskan sebelumnya. Elit bahwa ia merujuk kepada adalah memilih, atau "kelompok erat-merajut dari 'saudara' yang menunjuk Junayd oleh ungkapan-ungkapan seperti 'pilihan beriman' atau 'yang murni." Mereka memainkan peran penting dalam komunitas beriman ... " . Seperti disebutkan, Junayd selalu sulit untuk dibaca bagi para sarjana karena sebagian besar tulisan-tulisannya telah hilang ke waktu. Junayd terus-menerus menggunakan kata-kata yang tepat & bahasa yang spesifik untuk mencoba menggambarkan Allah, kerinduan bagi-Nya, dan kondisi manusia. bahasa berbunga-Nya segera mati kebanyakan orang, tetapi Junayd punya alasan untuk menulis begitu misterius. Menurut Ensiklopedi Islam, Junayd menemukan bahwa sebuah surat yang ditulis oleh orang asing dibuka sebelum itu sampai ke tujuannya: "tak diragukan lagi oleh beberapa orang fanatik berkeinginan untuk menemukan penyebab impugning ortodoksi Nya, dan bahaya ini selalu hadir harus sebagian disebabkan yang disengaja preciosity yang menandai semua tulisan-tulisan mistik dari itu periode Junayd " . Konstan ini khawatir tentang orang lain mendapatkan suatu pegangan dari ide-idenya menyebabkan Junayd menjadi sangat protektif terhadap tulisan-tulisannya.

Meninggal Dunia

Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi Abu Bakar As-Syibli, seorang daripada muridnya.

Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."

Artikel Popular